Home » » Kesadaran masyarakat DKI terhadap pelestarian lingkungan hidup?

Kesadaran masyarakat DKI terhadap pelestarian lingkungan hidup?

Jumat, 20 April 2012 | 0 komentar

Sebagai sebuah ibu kota negara, kesadaran masyarakat DKI Jakarta terhadap pelestarian lingkungan hidup masih sangat jauh dari keadaan ideal, atau dapat dikatakan bahwa tingkat kesadarannya masih sangat rendah. Jangankan kita membayangkan adanya upaya yang dilakukan secara massal, masyarakat kita masih belum mampu melakukan upaya-upaya personal dalam melestarikan lingkungan hidup.

Sebagai contoh beberapa tahun yang lalu, pemerintah DKI telah memulai menyediakan kotak sampah di beberapa wilayah yang dipisahkan antara sampah organik dan sampah anorganik. Namun, masyarakat kita masih saja membuang sampah sembarangan yang mengakibatkan kerusakan keindahan kota dan membuat mampetnya berbagai saluran air yang seringkali menyebabkan timbulnya genangan-genangan air di berbagai ruas jalan di ibu kota saat diguyur hujan yang agak lebat sedikit karena air tidak dapat mengalir ke saluran yang ada.

Contoh lain masih rendahnya kesadaran masyarakat kita untuk melakukan uji emisi berkala bagi kendaraan bermotor yang mereka miliki. Tidak jarang kita temukan, khususnya kendaraan sepeda motor yang mengeluarkan udara yang begitu kotor dari knalpotnya sehingga membuat udara menjadi semakin tercemar. Selain itu masyarakat kita lebih senang beraktivitas dengan menggunakan kendaraan pribadi ketimbang dengan kendaraan umum. Hal ini membuat tingkat pencemaran dan juga kemacetan di Jakarta masih sangat tinggi. Selain itu, kita dapat melihat proses pembangunan berbagai fasilitas di Jakarta ini yang tidak mencerminkan adanya upaya untuk melestarikan lingkungan hidup. Sebagai contoh : pembangunan mal-mal, misalnya di wilayah Kelapa Gading, dilakukan di atas daerah resapan air. Selain itu taman-taman yang seharusnya untuk lahan terbuka dijadikan bangunan untuk bisnis dan keperluan lainnya. Kita pun dapat melihat minimnya pepohonan di sisi jalan dan pembatas jalan di Jakarta. Melihat hal ini semua, kita harus menyadari bahwa boleh dikatakan kesadaran kita (masyarakat DKI Jakarta khususnya) dari semua kalangan baik itu pejabat hingga pelajar sekolah masih belum mencerminkan akan kesadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup.

Apakah masyarakat kelas bawah di DKI masih peduli pada lingkungan hidup?

Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah (dalam hal ini kita berbicara mengenai DKI Jakarta), seringkali mengorbankan nasib rakyat kecil. Sebagai contoh penggusuran terhadap pemukiman kumuh dilakukan dengan alasan penertiban untuk lahan terbuka. Padahal seringkali setelah itu, lahan tersebut malah dijadikan sebagai bangunan apartemen atau mal. Sementara mereka yang digusur tidak diberi alternatif atau solusi untuk tempat tinggal mereka yang baru. Melihat kenyataan hidup mereka, saya rasa mereka tidak akan memikirkan masalah lingkungan hidup yang ada.

Akibat himpitan ekonomi tersebut, akibatnya pemukiman mereka dibangun dengan tidak memperhatikan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Karena ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan pemukiman yang layak, mereka memanfaatkan lahan-lahan di bantaran sungai ataupun taman- taman terbuka untuk mendirikan bangunan sebagai rumah mereka. Selain itu rendahnya tingkat pendidikan yang mereka miliki membuat mereka tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup. Masih banyak kita temukan bagaimana masyarakat yang tinggal di bantaran sungai akibat tidak adanya tempat pembuangan yang memadai, membuang sampah di sungai. Selain itu akibat tidak tersedianya MCK, mereka melakukan aktivitas mandi, mencuci, dan buang air di sungai. Akibatnya sungai-sungai di Jakarta airnya tercemar. Dapat kita katakan pula bahwa mereka yang berpendidikan tinggi bahkan yang duduk di pemerintahan dan yang hidupnya nyaman dan serba berkecukupan saja tidak perhatian terhadap keadaan lingkungan hidup, apalagi mereka yang hidupnya serba kekurangan. Namun meskipun demikian, kita dapat melihat bahwa justru beberapa masyarakat kelas bawah ini tanpa mereka sendiri menyadarinya telah lebih banyak berkontribusi terhadap lingkungan hidup kota Jakarta ini.

Sebagai contoh mereka yang bekerja sebagai pemulung baik di TPA Bantar Gebang ataupun tempat pengumpulan sampah lain, mereka telah membantu memilah-milah sampah antara yang dapat didaur ulang (contohnya botol plastik, kaleng, dan lain- lain) dengan yang tidak. Mereka melakukan itu semua untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Meskipun demikian, ada juga segelintir orang yang melakukan hal demikian memang karena rasa cinta mereka terhadap lingkungan hidup ini. Selain itu para petugas kebersihan telah membantu membersihkan sampah-sampah yang seringkali dibuang sembarangan di jalan oleh masyarakat umum.

Bahkan pada waktu hujan, kita sering melihat banyak petugas kebersihan ini tetap bekerja untuk membersihkan lubang-lubang saluran air di jalan-jalan raya di ibu kota ini untuk melancarkan genangan air sehingga tidak timbul banjir.

Apa yang mereka lakukan ini tanpa mereka sadari telah sedikit banyak membantu menyelamatkan lingkungan.
Selain itu, mayoritas masyarakat kelas bawah tidak menggunakan peralatan-peralatan seperti AC, kulkas, dan barang-barang lain yang menyebabkan kerusakan lingkungan seperti halnya masyarakat kelas bawah. Selain itu mereka pun akibat himpitan ekonomi senantiasa hidup hemat dalam memanfaatkan segala sesuatu. Melihat realita yang ada ini, saya secara pribadi berpendapat bahwa sebenarnya masyarakat kelas bawah dapat dikatakan lebih memiliki kehidupan yang bergaul dengan lingkungan hidup dibandingkan dengan masyarakat kelas atas. Sehingga meskipun tidak mereka sadari, justru sebenarnya beberapa dari mereka sedikit banyak telah peduli terhadap lingkungan hidup.

Sebenarnya kalau masyarakat bawah tidak peduli terhadap lingkungan masih dapat dimaklumi karena keadaan mereka yang serba terbatas. Tapi bagaimana halnya dengan masyarakat yang hidup serba berkecukupan? Seharusnya mereka sadar pentingnya pelestarian lingkungan. Jangan malah mereka semakin berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan itu akibat gaya hidup mereka yang foya-foya dan individualis.

©[FH Bandung]
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SENA THE DREAM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger